Sabtu, 06 November 2010
Terasa.....
Nikmatnya hidup baru terasa dengan adanya rasa syukur dalam hati.
Indahnya hidup baru terasa dengan adanya sikap ikhlas dan sabar dalam diri.
Berkahnya hidup baru terasa dengan adanya iman dan islam menyatu dalam jiwa.
Keceriaan dalam hidup akan terasa bila berada dengan orang-orang yang dicinta.
kebahagiaan dalam hidup akan terasa bila menyerahkan semua urusanmu kepada Robbmu karena Dia yang mengetahui apa yang dibutuhkan oleh setiap hamba_Nya
Jumat, 30 Juli 2010
Kehidupan Singkat Abel dan Galois
Niels Henrik Abel (1802 – 1829) menjalani hidup yang terlalu singkat yang diliputi kemiskinan dan kekurangan. Pada saat itu perekonomian Norwegia mengalami blokade oleh Inggris, dan juga masalah politik dengan Denmark dan Swedia. Seluruh negara dari Norwegia dalam kondisi buruk dan kemiskinan pun merajalela.
Ayah Abel juga terlibat dalam dunia politik dan bahkan menduduki jabatan di legislatif nasional. Niels Henrik adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Selain itu, diduga bahwa ayah Niels Henrik adalah seorang pemabuk dan ibunya seorang wanita yang bermoral rendah.
Pada tahun 1815 pemuda jenius tersebut dikirim ke Sekolah Cathedral di Christiana. Sebuah akademi yang pernah terkemuka, institusi ini telah kehilangan guru-gugu dan staf terbaik universitas. Sehingga pendidikan berada dalam kondisi yang buruk ketika pemuda tersebut tiba. Ia terinspirasi oleh pelajaran tersebut, menunjukkan bakat dalam bidang matematika dan fisika. Saat itu Niels Hanrik beruntung karena instruktur baru, Bernt Holmboe, tiba di sekolah Cathedral pada tahun 1817. Ia segera mengenali bakat Abel dan mendorongnya untuk mempelajari matematika tingkat universitas. Mahasiswa tersebut berkembang di bawah perhatiannya, dan ia maju pesat. Tragedi menimpa ketika ayah Abel meninggal pada tahun 1820.
Ayah Abel mengakhiri karir politiknya dalam kehinaan karena karena ia telah membuat tuduhan palsu terhadap sesama anggota dewan. Minum yang terlalu banyak menyebakan ia dipecat dari legislatif. Niels Henrik takut bahwa ia akan berhenti dari sekolah menyokong keluarganya.
Tetapi gurunya Holmboe memberikan beasiswa sehingga Abel dapat melanjutkan studi di Universitas Christiana. Ia juga memperoleh uang dari rekan-rekannya untuk membantu studinya. Abel berhasil lulus dari Universitas tersebut pada tahun 1822.
Selama tahun terakhirnya di sekolah, Abel mencari penyelesaian persamaan pangkat lima. Pada tahun 1822 ia percaya bahwa ia akan menemukan solusinya, dan ia menyerahkan papernya ke matematikawan Denmark, Ferdinand Degen untuk diterbitkan oleh Royal Society of Copenhagen. Degen mempertanyakan Abel tentang karyanya, dan membuatnya menemukan kesalahannya. Degen juga mendorong Abel untuk mengembangkan integral eliptik.
Abel juga beruntunt saat ini karena menemukan mentor yang baru, Christopher Hansteen di Universitas Christiana. Bahkan istri Hansteen memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Abel berhasil menerbitkan karya ilmiahnya (paper) pada jurnal ilmiah yang telah dimulai oleh Hansteen. Secara khusus, ia menghasilkan solusi pertama dari persamaan integral.
Pada saat ini Abel memenangkan sejumlah uang sehingga ia bisa mengunjungi degen di Copenhagen. Di Copenhagen ia bertemu dengan Christin Kemp, yang menjadi tunangannya. Abel bercita-cita untuk menemui para ahli matematika terkemuka di Perancis dan Jerman agar dapat berdiskusi dan mengembangkan karyanya. Tetapi ia tidak memiliki dana dan tidak mengerti bahasanya, iaa memperoleh sedikit dana untuk tinggal di Christiania dan belajar. Pada tahun 1824 ia berhasil membuktikan ketidakmungkinan pemecahan persamaan pangkat lima secara radikal. Ia menerbitkan tulisannya di Perancis, sebagai sebuah pamflet, dengan biaya sendiri. Keputusan ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan cetakannya dengan cepat sehingga ia akan memiliki lembar kerja untuk dibawa saat ia terlibat dalam sebuah perjalanan yang sudah direncanakan. Untuk menghemat biaya percetakan, ia mengurangi pembuktiannya agar cukup untuk setengah lembar folio. (enam halaman)
Abel mengirimkan pamfletnya kepada sejumlah matematikawan terkemuka saat itu, termasuk Carl Friedrich Gauss. Ia bermaksud untuk menemui Gottingen ketika ia dalam perjalanannya. Pada tahun 1825 ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Norwegia yang akhirnya rencananya untuk tinggal di Eropa menjadi mungkin. Sesampainya di Copenhagen, abel kecewa karena Degen telah meninggal dunia. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke Paris tetapi bukan untuk tinggal bersama teman-tamannya melainkan melanjutkan perjalanan ke Berlin.
Abel telah mendapatkan surat pengantar untuk Crelle. Ia kemudian menemui Crelle di Berlin, dan dua orang menjadi temannya. Pada saat itu, Crelle sedang mengembangkan sebuah jurnal baru (Die Journal fiir die Reine und Andgewandte Mathematik) yang menjadi karya terkemuka untuk penelitian matematika. Pada saat ini jurnal tersebut adalah jurnal matematika tertua yang masih ada. Crelle mendorong Abel untuk mengembangkan versi yang lebih detail dari ide-idenya tentang persamaan pangkat lima yang tidak terpecahkan, dan untuk menerbitkannya pada jurnal barunya. Abel melakukannya, dan tulisannya dimuat pada jurnal volume pertama. Bahkan tujuh dari tulisannya dimuat dalam volume tersebut.
Abel mulai mendedikasikan dirinya untuk pengembangan analisis dasar-dasar matematika dengan teliti dan menerbitkan tulisannya pada jurnal Crelle. Ia kecewa ketika mengetahui bahwa jabatan professor pada universitas di Norwegia telah diberikan kepada Holmboe. Abel telah mempunyai rencana untuk ikut Crelle ke Paris dan menemui Gauss di Gottingen. Tetapi Gauss yang terkenal karena nama buruknya tidak mendukung matematikawan muda tersebut, ia menunjukkan ketidaksenangannya dengan pamfle Abel tentang persamaan pangkat lima yang tidak terpecahkan. Mungkinpada awalnya terlihat agak aneh, karena pamflet Abel kemudian ditemukan masih di dalam amplop dan belum dibuka. Tetapi diyakini bahwa Gauss melampirkan sesuatu yang tidak signifikan pada solusi eksplisit persamaan tertentu. Ingat bahwa Gauss adalah orang yang telah membuktikan Teorema Dasar Aljabar yang mengatakan bahwa setiap polynomial memiliki sebuah akar kompleks. Hasil yang abstrak, tidak konstruktif ─ jenis teorema yang Gauss sukai. Dalam setiap acara, kurangnya dukungan Gauss sangat mempengaruhi Abel.
Ketika Abel akhirnya berangkat ke Paris, ia sangat sedih menngetahui bahwa matematikawan Perancis terkemukan kurang tertarik dengan karyanya. Cauchy, tidak memiliki waktu untuknya. Ia menulis kepada Holmboe bahwa
Perancis lebih tidak ramah kepada orang asing dari pada orang Jerman. Sangat sulit untuk bisa akrab dengan mereka, dan saya tidak berani untuk mendesak keinginannya sejauh itu; akhirnya setiap pemula banyak mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan perhatian di sini. Saya baru saja menyelesaikan sebuah pembahasan yang luas tentang kelas tertentu dati fungsi transedental untuk dipresentasikan kepada Institusi tersebut yang akan dilaksanakan senin depan. Saya menunjukkannya kepada Mr. Cauchy tetapi ia hampir tidak berkenan melihatnya.
Abel memiliki karya baru yang penting tentang integral elliptik ─ yang beberapa diantaranya jauh melampaui karyaa Euler sebelumnya ─ tetapi ia menemukan ketidaktertarika mereka. Ia kehabisan uang, hanya dapat sedikit makan sehari, dan menjadi kurus kering, menyedihkan, dan melelahkan.
Tetapi Abel dengan tabah melanjutkan karyanya tentang integral elliptik. Ia akhirnya meninggalkan Paris dan kembali ke Berlin. Di sana ia meminjam uang segingga ia bisa melanjutkan karyanya tentang fungsi ellips. Tetapi kesehatannya dalam kondisi buruk. Crelle terus menjadi pendukung setia Abel. Ia berusaha untuk menjadikan jabatan professor bagi ilmuwan muda, dan juga menawarkannya jabatan editor pada jurnalnya. Tetapi Abel bertekad untuk kembali ke tanah airnya. Abel akhirnya tiba di christiania pada tahun 1827 dan mendapatkan sedikit dana dari universitas. Ia mengajari anak-anak sekolah untuk memenuhi kebutuhannya , dan tunangannya bekerja sebagai pengasuh.
Hansteen menerima dana yang lebih besar untuk menyelidiki medan magnet bumi di Siberia. Jadi Abel dipekerjakan untuk menggantikannya sebagai profesor di universitas. Hal ini sedikit memperbaiki keadaan Abel.
Pada tahun 1828 Abel mengetahui karya Jacobi tentang transformasi integral ellips. Ide-ide ini rahasia yang terungkap bagi Abel, dan ia menyadari bahwa mereka memasuki konteks dari apa yang ia sedang teliti. Ia segera menulis beberapa makalah yang mengubah subjek tersebut, yang akhirnya mendapatkan perhatian Adrien-Marie Legendre (1752 – 1833) .
Sementara kesehatannya memburuk, Abel terus menghasilkan karyanya tentang fungsi ellips. Ia menghabiskan waktu musim panas tahun 1828 dengan tunangannya di Froland. Ia telah menyerahkan karya besarnya tentang teori fungsi ellips kepada akademi Paris, tetapi mereka entah bagaimana kehilangan naskahnya. Hal ini terjadi lama sebelum hari memfotocopy, sehingga Abel harus menuliskan naskahnya lagi dari awal.
Abel melakukan perjalanan dengan kereta luncur untuk menemui tunangannya di Froland marayakan hari Natal tahun 1828. Pada perjalanan itu ia menjadi sakit parah. Crelle, yang pernah menjadi teman dan mentornya, melipatgandakan usahanya untuk memulihkan keadaan Abel. Ia akhirnya berhasil memdapatkan jabatan profesor untuk Abel di Berlin. Dia menulis untuk Abel pada tanggal 8 April 1829 untuk menceritakan berita besar. Tetapi terlambat; Abel telah meninggal dunia.
Setelah kematian mendadak Abel, Cauchy (setelah lama mencari) menemukan naskahnya di paris. Naskah tersebut dicetak pada tahun 1841 tetapi sekali lagi entah bagaimana naskah tersebut hilang. Naskah tersebut tidak muncul sampai tahun 1952! ─ beberapa ditemukan 122 tahun setelah kematian Abel. Naskah tersebut ditemukan di Florence, italia. Naskah lainnya ditemukan setelah kematian Abel ─ ia terus bekerja sampai akhir, bahkan di atas tempat tidurnya ─ memberikan hasil yang penting tentang solusi persamaan polynomial. Hasil karyanya ini diharapkan akan dibuktikan oleh Galois.
Evariste Galois (1811 – 1832) juga hidup dalam kehidupan yang singkat dan menyedihkan. Kematiannya tidak disebabkan oleh kemiskinan, tetapi oleh kekacauan pribadi dan pada akhirnya meninggal karena luka tembak.
Keluarga Galois terdiri dari orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Ibunya guru satu-satunya sampai usia 12 tahun, dan ibunya mengajarinya bahasa klasik dan agama. Tidak ada bukti bakat matematika di keluarganya sebelum Evariste Galiois sendiri.
Galois hidup pada saat terjadi gejolak politik yang besar di Perancis. Penyerbuan bastil terjadi pada tahun 1789, dan memicu kerusuhan di mana Galois muda dibesarkan. Sekolahnya sendiri ─ Lycee of Louisle-Grand ─ menjadi sasaran pemberontakan di kalangan pelajar.
Tahun 1827 tersebut menjadi titik balik bagi galois, karena ia pertama kalinya masuk kelas matematika dari M Vernier. Ia dengan cepat menjadi unggul secara dramatis. Direktur tempat ia belajar menuliskan tentang dirinya
Ini adalah semangat untuk matematika yang mendominasi dirinya, saya kira hal ini akan menjadi yang terbaik bagi dirinya jika orang tuanya mengizinkannya untuk tidak mempelajari yang lainnya kecuali matematika, ia menghabiskan waktunya di sini dan tidak melakukan apapun kecuali menyiksa gurunya dan menindas dirinya dengan hukuman.
Laporan sekolah Galois muda menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang aneh dan tertutup. Karena Galois dikenal sebagai salah satu matematikawan yang paling orisinal yang pernah ada, adalah luar biasa bahwa orisinalitasnya yang pertamakali dipertanggungjawabkan.
Pada tahun 1828 Galois mendaftar di Politeknik Ecole, sekolah teknik yang paling terkemuka di Perancis. Ketertarikannya pada sekolah tersebut adalah tentu akademiknya, tetapi ia juga tertarik pada gerakan-gerakan politik yang ada di kalangan mahasiswa. Ia gagal dalam ujian masuk dan tidak diterima.
Galois dengan kecewa kembali ke Louis-le-Grand, dimana ia mempelajari matematika dari Louis Richard. Tetapi pemuda tersebut lebih terkonsentrasi pada kepentingan sendiri (Adrien-Marie Legendre dan J.L. Lagrange) dan jarang masuk kelas. Pada tahun 1829 ia menerbitkan hasil penelitian pertamanya. Dua lebih tulisannya dengan cepat diikuti. Sayangnya, ayah Galois bunuh diri pada tahun itu, dan tentu saja Galois muda berada dalam kondisi yang menyedihkan. Lamarannya yang kedua pada Politeknik Ecole, hasilnya gagal. Galois malahan masuk Ecole Normale, yang merupakan gabungan dari sekolah Louis-le-Grand.
Galois selalu mengalami kesulitan merumuskan dan mengungkapkan ide-ide matematikanya, dan hal ini menyebabkan kegagalannya untuk lulus ujian masuk Politeknik Ecole. Untuk masuk Ecole Normale, ia harus lulus ujian sarjana muda. Penguji matematikanya melaporkan
Siswa ini kadang-kadang tidak jelas dalam mengungkapkan ide-idenya, tetapi ia sangat cerdas dan menunjukkan semangat penelitian yang luar biasa.
Sebagai tambahan, penguji satranya berkata
Inilah satu-satunya siswa yang menjawab pertanyaanku dengan buruk, dia tidak tahu apa-apa. Saya diberitahu bahwa siswa ini memiliki kemampuan matematika yang luar biasa. Hal ini sangat menakjubkan saya, setelah ujiannya, saya percaya dia memiliki kemampuan tetapi kurang cerdas.
Galois mengirimkan beberapa karyanya kepada Cauchy saat ini, dan diberitahu bahwa karyanya tumpang tindih dengan karya Abel. Ia kemudian membaca karya Abel, dan mengubah progran penelitiannya. Ia mulai meneliti tentang fungsi ellips dan integral Abel. Galois telah mengajukan karyanya kepada Fourier, sekretaris dari Akademi Perancis untuk mempertimbangkan hadiah mereka dalam matematika. Hadiah selanjutnya diberikan kepada Abel dan Jacobi, tentunya mengecewakan Galois. Mereka tampaknya kehilangan kirimannya.
Perancis mengalami kerusuhan politik yang cukup besar pada tahun 1830, dan Galois terlibat. Hal ini tentu mengganggu karya matematikanya. Ia hanya menerbitkan dua lebih makalah pada tahun 1831, dan karya ini adalah yang terakhir. Sophie Germain (mendiskusikan buku ini di lain tempat) menulis dalam sebuah surat bahwa galois menderita karen mentornya Fourier telah meninggal dunia. Galois tidak memiliki uang, putus asa, dan terganggu oleh politik radikal. Dia diusir dari Ecole Normale.
Pada tahun 1831 galois ditangkap karena membuat ancaman publik terhadap raja, Louis-Phillipe. Kesaksian mengungkapkan bahwa ada kebingungan tentang apa yang sesungguhnya Galois katakan, dan tidak ada saksi yang dapat diandalkan. Ia dibebaskan.
Tidak lama setelah itu, galois ditemukan membawa senjata pada hari Bastille, dan ia ditangkap lagi. Selagi di penjara, ia mendapat kabar tentang penolakan karya matematika terakhirnya. Ia mencoba bunuh diri di dalam penjara, tetapi tahanan lainnya merebut belati dari dirinya.
Selama epidemi kolera di bulan Maret 1832, para tahanan termasuk galois dipindahkan ke rumah penginapan Sieur Faultrier. Di sana tampaknya ia jatuh cinta pada Stephanie-Felice du motel, anak dari seorang dokter. Setelah dibebaskan pada bulan April, ia mengejar Stephanie, tetapi Stephanie menjauhkan dirinya dari hubungan ini.
Galois berduel dengan Perscheux d’Herbinville pada tanggal 30 Mei 1832. Walaupun alasan khusus duel tersebut telah hilang dalam sejarah, terlihat jelas bahwa masalah ini ada hubungannya dengan Stephanie. Menurut legenda, galois tahu bahwa dia tidak memiliki keterampilan dalam hal duel dan yakin bahwa ia akan mati dalam konfrontasi ini. Sehingga ia menghabiskan malam sebelumnya untuk menulis semua yang ia ketahui tentang teori Grup. Dalam hal apapun, ia terluka dalam duel tersebut dan ditinggalkan oleh d’Herbinville. Kemudian seorang petani menemukannya dan membawanya ke rumah sakit Cochin. Ketika Galois dibawa ke rumah sakit dengan lukanya yang parah, saudara laki-lakinya menemani di sampingnya. Galois berkata, “jangan menangis. Butuh keberanian untuk mati di usia dua puluh”. Galois meninggal pada tanggal 31 Mei 1832.
Saudara laki-laki Galois dan temannya Chevalier menyalin makalah matematika Galois dan mengirimkannya kepada Gauss. Tidak ada catatan bahwa Gauss pernah mempelajarinya, tetapi makalah tersebut diterima oleh Liouville. Liouville pernah mempelajarinya, dan kemudian mengumumkan kepada Akademi Perancis bahwa galois telah menemukan solusi yang lengkap dari masalah polynomial yang diselesaikan secara radikal. Makalah ini berisi dasar-dasar dari apa yang dikenal sebagai teori Galois ─ salah satu pilar utama dari teori bilangan modern.
Ayah Abel juga terlibat dalam dunia politik dan bahkan menduduki jabatan di legislatif nasional. Niels Henrik adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Selain itu, diduga bahwa ayah Niels Henrik adalah seorang pemabuk dan ibunya seorang wanita yang bermoral rendah.
Pada tahun 1815 pemuda jenius tersebut dikirim ke Sekolah Cathedral di Christiana. Sebuah akademi yang pernah terkemuka, institusi ini telah kehilangan guru-gugu dan staf terbaik universitas. Sehingga pendidikan berada dalam kondisi yang buruk ketika pemuda tersebut tiba. Ia terinspirasi oleh pelajaran tersebut, menunjukkan bakat dalam bidang matematika dan fisika. Saat itu Niels Hanrik beruntung karena instruktur baru, Bernt Holmboe, tiba di sekolah Cathedral pada tahun 1817. Ia segera mengenali bakat Abel dan mendorongnya untuk mempelajari matematika tingkat universitas. Mahasiswa tersebut berkembang di bawah perhatiannya, dan ia maju pesat. Tragedi menimpa ketika ayah Abel meninggal pada tahun 1820.
Ayah Abel mengakhiri karir politiknya dalam kehinaan karena karena ia telah membuat tuduhan palsu terhadap sesama anggota dewan. Minum yang terlalu banyak menyebakan ia dipecat dari legislatif. Niels Henrik takut bahwa ia akan berhenti dari sekolah menyokong keluarganya.
Tetapi gurunya Holmboe memberikan beasiswa sehingga Abel dapat melanjutkan studi di Universitas Christiana. Ia juga memperoleh uang dari rekan-rekannya untuk membantu studinya. Abel berhasil lulus dari Universitas tersebut pada tahun 1822.
Selama tahun terakhirnya di sekolah, Abel mencari penyelesaian persamaan pangkat lima. Pada tahun 1822 ia percaya bahwa ia akan menemukan solusinya, dan ia menyerahkan papernya ke matematikawan Denmark, Ferdinand Degen untuk diterbitkan oleh Royal Society of Copenhagen. Degen mempertanyakan Abel tentang karyanya, dan membuatnya menemukan kesalahannya. Degen juga mendorong Abel untuk mengembangkan integral eliptik.
Abel juga beruntunt saat ini karena menemukan mentor yang baru, Christopher Hansteen di Universitas Christiana. Bahkan istri Hansteen memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Abel berhasil menerbitkan karya ilmiahnya (paper) pada jurnal ilmiah yang telah dimulai oleh Hansteen. Secara khusus, ia menghasilkan solusi pertama dari persamaan integral.
Pada saat ini Abel memenangkan sejumlah uang sehingga ia bisa mengunjungi degen di Copenhagen. Di Copenhagen ia bertemu dengan Christin Kemp, yang menjadi tunangannya. Abel bercita-cita untuk menemui para ahli matematika terkemuka di Perancis dan Jerman agar dapat berdiskusi dan mengembangkan karyanya. Tetapi ia tidak memiliki dana dan tidak mengerti bahasanya, iaa memperoleh sedikit dana untuk tinggal di Christiania dan belajar. Pada tahun 1824 ia berhasil membuktikan ketidakmungkinan pemecahan persamaan pangkat lima secara radikal. Ia menerbitkan tulisannya di Perancis, sebagai sebuah pamflet, dengan biaya sendiri. Keputusan ini didorong oleh keinginan untuk mendapatkan cetakannya dengan cepat sehingga ia akan memiliki lembar kerja untuk dibawa saat ia terlibat dalam sebuah perjalanan yang sudah direncanakan. Untuk menghemat biaya percetakan, ia mengurangi pembuktiannya agar cukup untuk setengah lembar folio. (enam halaman)
Abel mengirimkan pamfletnya kepada sejumlah matematikawan terkemuka saat itu, termasuk Carl Friedrich Gauss. Ia bermaksud untuk menemui Gottingen ketika ia dalam perjalanannya. Pada tahun 1825 ia memperoleh beasiswa dari pemerintah Norwegia yang akhirnya rencananya untuk tinggal di Eropa menjadi mungkin. Sesampainya di Copenhagen, abel kecewa karena Degen telah meninggal dunia. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke Paris tetapi bukan untuk tinggal bersama teman-tamannya melainkan melanjutkan perjalanan ke Berlin.
Abel telah mendapatkan surat pengantar untuk Crelle. Ia kemudian menemui Crelle di Berlin, dan dua orang menjadi temannya. Pada saat itu, Crelle sedang mengembangkan sebuah jurnal baru (Die Journal fiir die Reine und Andgewandte Mathematik) yang menjadi karya terkemuka untuk penelitian matematika. Pada saat ini jurnal tersebut adalah jurnal matematika tertua yang masih ada. Crelle mendorong Abel untuk mengembangkan versi yang lebih detail dari ide-idenya tentang persamaan pangkat lima yang tidak terpecahkan, dan untuk menerbitkannya pada jurnal barunya. Abel melakukannya, dan tulisannya dimuat pada jurnal volume pertama. Bahkan tujuh dari tulisannya dimuat dalam volume tersebut.
Abel mulai mendedikasikan dirinya untuk pengembangan analisis dasar-dasar matematika dengan teliti dan menerbitkan tulisannya pada jurnal Crelle. Ia kecewa ketika mengetahui bahwa jabatan professor pada universitas di Norwegia telah diberikan kepada Holmboe. Abel telah mempunyai rencana untuk ikut Crelle ke Paris dan menemui Gauss di Gottingen. Tetapi Gauss yang terkenal karena nama buruknya tidak mendukung matematikawan muda tersebut, ia menunjukkan ketidaksenangannya dengan pamfle Abel tentang persamaan pangkat lima yang tidak terpecahkan. Mungkinpada awalnya terlihat agak aneh, karena pamflet Abel kemudian ditemukan masih di dalam amplop dan belum dibuka. Tetapi diyakini bahwa Gauss melampirkan sesuatu yang tidak signifikan pada solusi eksplisit persamaan tertentu. Ingat bahwa Gauss adalah orang yang telah membuktikan Teorema Dasar Aljabar yang mengatakan bahwa setiap polynomial memiliki sebuah akar kompleks. Hasil yang abstrak, tidak konstruktif ─ jenis teorema yang Gauss sukai. Dalam setiap acara, kurangnya dukungan Gauss sangat mempengaruhi Abel.
Ketika Abel akhirnya berangkat ke Paris, ia sangat sedih menngetahui bahwa matematikawan Perancis terkemukan kurang tertarik dengan karyanya. Cauchy, tidak memiliki waktu untuknya. Ia menulis kepada Holmboe bahwa
Perancis lebih tidak ramah kepada orang asing dari pada orang Jerman. Sangat sulit untuk bisa akrab dengan mereka, dan saya tidak berani untuk mendesak keinginannya sejauh itu; akhirnya setiap pemula banyak mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan perhatian di sini. Saya baru saja menyelesaikan sebuah pembahasan yang luas tentang kelas tertentu dati fungsi transedental untuk dipresentasikan kepada Institusi tersebut yang akan dilaksanakan senin depan. Saya menunjukkannya kepada Mr. Cauchy tetapi ia hampir tidak berkenan melihatnya.
Abel memiliki karya baru yang penting tentang integral elliptik ─ yang beberapa diantaranya jauh melampaui karyaa Euler sebelumnya ─ tetapi ia menemukan ketidaktertarika mereka. Ia kehabisan uang, hanya dapat sedikit makan sehari, dan menjadi kurus kering, menyedihkan, dan melelahkan.
Tetapi Abel dengan tabah melanjutkan karyanya tentang integral elliptik. Ia akhirnya meninggalkan Paris dan kembali ke Berlin. Di sana ia meminjam uang segingga ia bisa melanjutkan karyanya tentang fungsi ellips. Tetapi kesehatannya dalam kondisi buruk. Crelle terus menjadi pendukung setia Abel. Ia berusaha untuk menjadikan jabatan professor bagi ilmuwan muda, dan juga menawarkannya jabatan editor pada jurnalnya. Tetapi Abel bertekad untuk kembali ke tanah airnya. Abel akhirnya tiba di christiania pada tahun 1827 dan mendapatkan sedikit dana dari universitas. Ia mengajari anak-anak sekolah untuk memenuhi kebutuhannya , dan tunangannya bekerja sebagai pengasuh.
Hansteen menerima dana yang lebih besar untuk menyelidiki medan magnet bumi di Siberia. Jadi Abel dipekerjakan untuk menggantikannya sebagai profesor di universitas. Hal ini sedikit memperbaiki keadaan Abel.
Pada tahun 1828 Abel mengetahui karya Jacobi tentang transformasi integral ellips. Ide-ide ini rahasia yang terungkap bagi Abel, dan ia menyadari bahwa mereka memasuki konteks dari apa yang ia sedang teliti. Ia segera menulis beberapa makalah yang mengubah subjek tersebut, yang akhirnya mendapatkan perhatian Adrien-Marie Legendre (1752 – 1833) .
Sementara kesehatannya memburuk, Abel terus menghasilkan karyanya tentang fungsi ellips. Ia menghabiskan waktu musim panas tahun 1828 dengan tunangannya di Froland. Ia telah menyerahkan karya besarnya tentang teori fungsi ellips kepada akademi Paris, tetapi mereka entah bagaimana kehilangan naskahnya. Hal ini terjadi lama sebelum hari memfotocopy, sehingga Abel harus menuliskan naskahnya lagi dari awal.
Abel melakukan perjalanan dengan kereta luncur untuk menemui tunangannya di Froland marayakan hari Natal tahun 1828. Pada perjalanan itu ia menjadi sakit parah. Crelle, yang pernah menjadi teman dan mentornya, melipatgandakan usahanya untuk memulihkan keadaan Abel. Ia akhirnya berhasil memdapatkan jabatan profesor untuk Abel di Berlin. Dia menulis untuk Abel pada tanggal 8 April 1829 untuk menceritakan berita besar. Tetapi terlambat; Abel telah meninggal dunia.
Setelah kematian mendadak Abel, Cauchy (setelah lama mencari) menemukan naskahnya di paris. Naskah tersebut dicetak pada tahun 1841 tetapi sekali lagi entah bagaimana naskah tersebut hilang. Naskah tersebut tidak muncul sampai tahun 1952! ─ beberapa ditemukan 122 tahun setelah kematian Abel. Naskah tersebut ditemukan di Florence, italia. Naskah lainnya ditemukan setelah kematian Abel ─ ia terus bekerja sampai akhir, bahkan di atas tempat tidurnya ─ memberikan hasil yang penting tentang solusi persamaan polynomial. Hasil karyanya ini diharapkan akan dibuktikan oleh Galois.
Evariste Galois (1811 – 1832) juga hidup dalam kehidupan yang singkat dan menyedihkan. Kematiannya tidak disebabkan oleh kemiskinan, tetapi oleh kekacauan pribadi dan pada akhirnya meninggal karena luka tembak.
Keluarga Galois terdiri dari orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Ibunya guru satu-satunya sampai usia 12 tahun, dan ibunya mengajarinya bahasa klasik dan agama. Tidak ada bukti bakat matematika di keluarganya sebelum Evariste Galiois sendiri.
Galois hidup pada saat terjadi gejolak politik yang besar di Perancis. Penyerbuan bastil terjadi pada tahun 1789, dan memicu kerusuhan di mana Galois muda dibesarkan. Sekolahnya sendiri ─ Lycee of Louisle-Grand ─ menjadi sasaran pemberontakan di kalangan pelajar.
Tahun 1827 tersebut menjadi titik balik bagi galois, karena ia pertama kalinya masuk kelas matematika dari M Vernier. Ia dengan cepat menjadi unggul secara dramatis. Direktur tempat ia belajar menuliskan tentang dirinya
Ini adalah semangat untuk matematika yang mendominasi dirinya, saya kira hal ini akan menjadi yang terbaik bagi dirinya jika orang tuanya mengizinkannya untuk tidak mempelajari yang lainnya kecuali matematika, ia menghabiskan waktunya di sini dan tidak melakukan apapun kecuali menyiksa gurunya dan menindas dirinya dengan hukuman.
Laporan sekolah Galois muda menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang aneh dan tertutup. Karena Galois dikenal sebagai salah satu matematikawan yang paling orisinal yang pernah ada, adalah luar biasa bahwa orisinalitasnya yang pertamakali dipertanggungjawabkan.
Pada tahun 1828 Galois mendaftar di Politeknik Ecole, sekolah teknik yang paling terkemuka di Perancis. Ketertarikannya pada sekolah tersebut adalah tentu akademiknya, tetapi ia juga tertarik pada gerakan-gerakan politik yang ada di kalangan mahasiswa. Ia gagal dalam ujian masuk dan tidak diterima.
Galois dengan kecewa kembali ke Louis-le-Grand, dimana ia mempelajari matematika dari Louis Richard. Tetapi pemuda tersebut lebih terkonsentrasi pada kepentingan sendiri (Adrien-Marie Legendre dan J.L. Lagrange) dan jarang masuk kelas. Pada tahun 1829 ia menerbitkan hasil penelitian pertamanya. Dua lebih tulisannya dengan cepat diikuti. Sayangnya, ayah Galois bunuh diri pada tahun itu, dan tentu saja Galois muda berada dalam kondisi yang menyedihkan. Lamarannya yang kedua pada Politeknik Ecole, hasilnya gagal. Galois malahan masuk Ecole Normale, yang merupakan gabungan dari sekolah Louis-le-Grand.
Galois selalu mengalami kesulitan merumuskan dan mengungkapkan ide-ide matematikanya, dan hal ini menyebabkan kegagalannya untuk lulus ujian masuk Politeknik Ecole. Untuk masuk Ecole Normale, ia harus lulus ujian sarjana muda. Penguji matematikanya melaporkan
Siswa ini kadang-kadang tidak jelas dalam mengungkapkan ide-idenya, tetapi ia sangat cerdas dan menunjukkan semangat penelitian yang luar biasa.
Sebagai tambahan, penguji satranya berkata
Inilah satu-satunya siswa yang menjawab pertanyaanku dengan buruk, dia tidak tahu apa-apa. Saya diberitahu bahwa siswa ini memiliki kemampuan matematika yang luar biasa. Hal ini sangat menakjubkan saya, setelah ujiannya, saya percaya dia memiliki kemampuan tetapi kurang cerdas.
Galois mengirimkan beberapa karyanya kepada Cauchy saat ini, dan diberitahu bahwa karyanya tumpang tindih dengan karya Abel. Ia kemudian membaca karya Abel, dan mengubah progran penelitiannya. Ia mulai meneliti tentang fungsi ellips dan integral Abel. Galois telah mengajukan karyanya kepada Fourier, sekretaris dari Akademi Perancis untuk mempertimbangkan hadiah mereka dalam matematika. Hadiah selanjutnya diberikan kepada Abel dan Jacobi, tentunya mengecewakan Galois. Mereka tampaknya kehilangan kirimannya.
Perancis mengalami kerusuhan politik yang cukup besar pada tahun 1830, dan Galois terlibat. Hal ini tentu mengganggu karya matematikanya. Ia hanya menerbitkan dua lebih makalah pada tahun 1831, dan karya ini adalah yang terakhir. Sophie Germain (mendiskusikan buku ini di lain tempat) menulis dalam sebuah surat bahwa galois menderita karen mentornya Fourier telah meninggal dunia. Galois tidak memiliki uang, putus asa, dan terganggu oleh politik radikal. Dia diusir dari Ecole Normale.
Pada tahun 1831 galois ditangkap karena membuat ancaman publik terhadap raja, Louis-Phillipe. Kesaksian mengungkapkan bahwa ada kebingungan tentang apa yang sesungguhnya Galois katakan, dan tidak ada saksi yang dapat diandalkan. Ia dibebaskan.
Tidak lama setelah itu, galois ditemukan membawa senjata pada hari Bastille, dan ia ditangkap lagi. Selagi di penjara, ia mendapat kabar tentang penolakan karya matematika terakhirnya. Ia mencoba bunuh diri di dalam penjara, tetapi tahanan lainnya merebut belati dari dirinya.
Selama epidemi kolera di bulan Maret 1832, para tahanan termasuk galois dipindahkan ke rumah penginapan Sieur Faultrier. Di sana tampaknya ia jatuh cinta pada Stephanie-Felice du motel, anak dari seorang dokter. Setelah dibebaskan pada bulan April, ia mengejar Stephanie, tetapi Stephanie menjauhkan dirinya dari hubungan ini.
Galois berduel dengan Perscheux d’Herbinville pada tanggal 30 Mei 1832. Walaupun alasan khusus duel tersebut telah hilang dalam sejarah, terlihat jelas bahwa masalah ini ada hubungannya dengan Stephanie. Menurut legenda, galois tahu bahwa dia tidak memiliki keterampilan dalam hal duel dan yakin bahwa ia akan mati dalam konfrontasi ini. Sehingga ia menghabiskan malam sebelumnya untuk menulis semua yang ia ketahui tentang teori Grup. Dalam hal apapun, ia terluka dalam duel tersebut dan ditinggalkan oleh d’Herbinville. Kemudian seorang petani menemukannya dan membawanya ke rumah sakit Cochin. Ketika Galois dibawa ke rumah sakit dengan lukanya yang parah, saudara laki-lakinya menemani di sampingnya. Galois berkata, “jangan menangis. Butuh keberanian untuk mati di usia dua puluh”. Galois meninggal pada tanggal 31 Mei 1832.
Saudara laki-laki Galois dan temannya Chevalier menyalin makalah matematika Galois dan mengirimkannya kepada Gauss. Tidak ada catatan bahwa Gauss pernah mempelajarinya, tetapi makalah tersebut diterima oleh Liouville. Liouville pernah mempelajarinya, dan kemudian mengumumkan kepada Akademi Perancis bahwa galois telah menemukan solusi yang lengkap dari masalah polynomial yang diselesaikan secara radikal. Makalah ini berisi dasar-dasar dari apa yang dikenal sebagai teori Galois ─ salah satu pilar utama dari teori bilangan modern.
Selasa, 06 April 2010
TEORI PEMBELAJARAN MENURUT ALIRAN PSIKOLOGI GESTALT
Teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1959) yang meneliti tentang “insight” pada simpanse yaitu mengenai mentalitas simpanse (ape) di pulau Canary. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, dan Kurt Lewin (1892 – 1947) yang mengembangkan suatu teori belajar (cognitif field) dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Penelitian – penelitian mereka menumbuhkan psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman.
Istilah ‘Gestalt’ sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu ‘form’, ‘shape’ (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain ‘shape psychology’, ‘configurationism’, ‘whole psychology’ dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan kedalam bahasa lain.
Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, dimana anak harus berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar ia dapat memahamii keseluruhan situasi atau bahan ajaran tersebut. “insight” itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha” atau “oh, see now”. Menurut teori Gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat global terhadap objek-objek yang dilihat, karena itu belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian berproses kepada bagian-bagian. Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.
Hukum pengamatan menurut teori Gestalt meliputi :
1. Hukum Keterdekatan, artinya yang terdekat merupakan Gestalt.
2. Hukum Ketertutupan, artinya yang tertutup merupakan Gestalt.
3. Hukum Kesamaan, artinya yang sama merupakan Gestalt.
Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, simetri, dan harmonis. Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu :
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
References :
Marada. 2008. Belajar Psikologi Gestalt dan Implikasinya di dalam Belajar dan pembelajaran. (online) Tersedia : http://maradagv.multiply.com/journal/item/32 Diakses 17 Maret 2010.
Riyanto, Bambang. 2008. Teori Belajar Gestalat. (online) Tersedia: http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-belajar-gestalt/. Diakses 17 Maret 2010.
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Teori-Teori Belajar. (online) Tersedia : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/. Diakses 17 Maret 2010
Istilah ‘Gestalt’ sendiri merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa-bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu ‘form’, ‘shape’ (dalam bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain ‘shape psychology’, ‘configurationism’, ‘whole psychology’ dan sebagainya. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan kedalam bahasa lain.
Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menuyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu seperti bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak memberikan potongan-potongan atau bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung persoalan-persoalan, dimana anak harus berusaha menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar ia dapat memahamii keseluruhan situasi atau bahan ajaran tersebut. “insight” itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan seperti “aha” atau “oh, see now”. Menurut teori Gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat global terhadap objek-objek yang dilihat, karena itu belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian berproses kepada bagian-bagian. Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga.
Hukum pengamatan menurut teori Gestalt meliputi :
1. Hukum Keterdekatan, artinya yang terdekat merupakan Gestalt.
2. Hukum Ketertutupan, artinya yang tertutup merupakan Gestalt.
3. Hukum Kesamaan, artinya yang sama merupakan Gestalt.
Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, simetri, dan harmonis. Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu :
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4. Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6. Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
References :
Marada. 2008. Belajar Psikologi Gestalt dan Implikasinya di dalam Belajar dan pembelajaran. (online) Tersedia : http://maradagv.multiply.com/journal/item/32 Diakses 17 Maret 2010.
Riyanto, Bambang. 2008. Teori Belajar Gestalat. (online) Tersedia: http://bambangriyantomath.wordpress.com/2009/05/29/teori-belajar-gestalt/. Diakses 17 Maret 2010.
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Sudrajat, Akhmad. 2008. Teori-Teori Belajar. (online) Tersedia : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/. Diakses 17 Maret 2010
Minggu, 21 Maret 2010
Teori Belajar Bermakna dari David P Ausubel
Teori pembelajaran Ausubel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.
Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep :
1. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan
3. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.
5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat relajar.
Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.
Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:
1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.
Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep :
1. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan
3. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.
5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat relajar.
Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.
Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.
Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:
1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
Sabtu, 20 Maret 2010
TEORI HIRARKI BELAJAR DARI ROBERT M GAGNE
Robert M Gagne adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang mengembangkan pendekatan perilaku yang elektik. Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Robert M Gagne membedakan 8 type belajar yakni :
1. Signal learning (belajar isyarat)
2. Stimulus-response learning (belajar stimulus-respons)
3. Chaining ( rantai atau rangkaian)
4. Verbal Association (asosiasi verbal)
5. Discrimination learning (belajar diskriminasi)
6. Concept learning (belajar konsep)
7. Rule learning (belajar aturan)
8. Problem solving (memecahkan masalah)
Empat fase dalam belajar :
Belajar berlangsung dalam empat fase, yakni (1) fase apprehending, (2) fase acquisition, (3) fase storage, dan (4) fase retrieval. Keempat fase ini berlangsung berturut-turut.
Dalam fase apprehending seorang harus memperhatikan stimulus tertentu, harus menangkap artinya dan memahaminya. Suatu stimulus dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, misalnya “sakura” dapat ditafsirkan sebagai bunga di Jepang atau berbagai nama film.
Setelah itu terjadi fase acquisition dan ini terbukti dari kesanggupan yang diperoleh seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum diketahuinya sebelumnya.
Kemampuan yang baru itu disimpan. Ini disebut fase storage. Ada kalanya apa yang dipelajari itu disimpan atau diingat sebentar saja, misalnya beberapa menit seperti nomor telepon untuk memutar nomor tertentu, dapat pula diingat sepanjang hiidup. Jadi ada ingatan jangka pendek, ada pula ingatan jangka panjang. Yang terakhir ini sangat penting bagi pendidikan.
Apa yang disimpan itu pada suatu waktu diperlukan dan diambil dari simpanan. Ini disebut fase retrieval atau pengambilan kembali. Retrieval ini tidak semata-mata mengeluarkan kembali apa yang disimpan, akan tetapi menggunakannya dalam situasi tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah. Ada kemungkinan bahwa apa yang disimpan itu dikeluarkan dalam bentuk yang lain daripada sewaktu disimpan. Gejala ini termasuk transfer apa yang dipelajari itu.
Keempat fase ini sukar dipisahkan dengan tegas. Kedua fase pertama dapat berlangsung dalam beberapa detik. Keduanya dapat dipandang sebagai perbuatan belajar, sedangkan fase tiga dan empat dipandang sebagai mengingat. Belajar hanya terjadi bila ada sesuatu yang diingat dari apa yang dipelajari itu.
Hirarki dalam Belajar
Untuk mempelajari sesuatu, untuk dapat memecahkan suatu masalah, seseorang harus mampu menguasai kemampuan-kemampuan atau aturan-aturan yang lebih sederhana yang merupakan prasyarat guna pemecahannya. Setiap aturan pada tingkat yang lebih tinggi memerlukan penguasaan aturan pada tingkat yang lebih rendah. Bila ada sesuatu yang tidak dikuasai dalam hierarki atau jenjang itu, maka pelajar akan menghadapi kesulitan.
Perencanaan Hierarki dalam Mengajar
Adanya jenjang dalam mempelajari sesuatu mengharuskan guru untuk merencanakan langkah-langkah yang menuju ke arah penguasaan bahan pelajaran. Jadi kita dapat menganalisis prasyarat untuk memahami bahan pelajaran yang akan kita berikan, dengan menganalisis prasyarat-prasyarat atau langkah-langkah secara berangsur surut, sampai aturan atau konsep yang paling sederhana. Dengan demikian kita akan memperoleh semacam “peta” tentang hal-hal yang diperlukan. Dengan adanya analisis langkah-langkah itu kita ketahui secara sistematis jalan mana yang harus ditempuh oleh murid agar memahami bahan pelajaran itu.
Robert M Gagne membedakan 8 type belajar yakni :
1. Signal learning (belajar isyarat)
2. Stimulus-response learning (belajar stimulus-respons)
3. Chaining ( rantai atau rangkaian)
4. Verbal Association (asosiasi verbal)
5. Discrimination learning (belajar diskriminasi)
6. Concept learning (belajar konsep)
7. Rule learning (belajar aturan)
8. Problem solving (memecahkan masalah)
Empat fase dalam belajar :
Belajar berlangsung dalam empat fase, yakni (1) fase apprehending, (2) fase acquisition, (3) fase storage, dan (4) fase retrieval. Keempat fase ini berlangsung berturut-turut.
Dalam fase apprehending seorang harus memperhatikan stimulus tertentu, harus menangkap artinya dan memahaminya. Suatu stimulus dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, misalnya “sakura” dapat ditafsirkan sebagai bunga di Jepang atau berbagai nama film.
Setelah itu terjadi fase acquisition dan ini terbukti dari kesanggupan yang diperoleh seseorang untuk melakukan sesuatu yang belum diketahuinya sebelumnya.
Kemampuan yang baru itu disimpan. Ini disebut fase storage. Ada kalanya apa yang dipelajari itu disimpan atau diingat sebentar saja, misalnya beberapa menit seperti nomor telepon untuk memutar nomor tertentu, dapat pula diingat sepanjang hiidup. Jadi ada ingatan jangka pendek, ada pula ingatan jangka panjang. Yang terakhir ini sangat penting bagi pendidikan.
Apa yang disimpan itu pada suatu waktu diperlukan dan diambil dari simpanan. Ini disebut fase retrieval atau pengambilan kembali. Retrieval ini tidak semata-mata mengeluarkan kembali apa yang disimpan, akan tetapi menggunakannya dalam situasi tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah. Ada kemungkinan bahwa apa yang disimpan itu dikeluarkan dalam bentuk yang lain daripada sewaktu disimpan. Gejala ini termasuk transfer apa yang dipelajari itu.
Keempat fase ini sukar dipisahkan dengan tegas. Kedua fase pertama dapat berlangsung dalam beberapa detik. Keduanya dapat dipandang sebagai perbuatan belajar, sedangkan fase tiga dan empat dipandang sebagai mengingat. Belajar hanya terjadi bila ada sesuatu yang diingat dari apa yang dipelajari itu.
Hirarki dalam Belajar
Untuk mempelajari sesuatu, untuk dapat memecahkan suatu masalah, seseorang harus mampu menguasai kemampuan-kemampuan atau aturan-aturan yang lebih sederhana yang merupakan prasyarat guna pemecahannya. Setiap aturan pada tingkat yang lebih tinggi memerlukan penguasaan aturan pada tingkat yang lebih rendah. Bila ada sesuatu yang tidak dikuasai dalam hierarki atau jenjang itu, maka pelajar akan menghadapi kesulitan.
Perencanaan Hierarki dalam Mengajar
Adanya jenjang dalam mempelajari sesuatu mengharuskan guru untuk merencanakan langkah-langkah yang menuju ke arah penguasaan bahan pelajaran. Jadi kita dapat menganalisis prasyarat untuk memahami bahan pelajaran yang akan kita berikan, dengan menganalisis prasyarat-prasyarat atau langkah-langkah secara berangsur surut, sampai aturan atau konsep yang paling sederhana. Dengan demikian kita akan memperoleh semacam “peta” tentang hal-hal yang diperlukan. Dengan adanya analisis langkah-langkah itu kita ketahui secara sistematis jalan mana yang harus ditempuh oleh murid agar memahami bahan pelajaran itu.
Label:
Hirarki,
M.Gagne,
teori belajar,
Teori belajar hirarki
TEORI PENGUATAN DARI BURRHUS FREDERIC SKINNER (1904 – 1990)
TEORI PENGUATAN DARI BURRHUS FREDERIC SKINNER (1904 – 1990)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Konsep-konsep yang dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran
1. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
3. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
11. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
12. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Konsep-konsep yang dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran
1. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
3. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
11. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
12. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
Label:
Penguatan,
Skinner,
teori asosiasi,
Teori Penguatan
Kamis, 11 Maret 2010
TEORI ASOSIASI DARI EDWARD LEE THORNDIKE (1874 – 1949)
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbagai situasi yang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (dalam Asnaldi, 2008) teori Thondike ini disebut teori asosiasi.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
• Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
• Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
• Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Hukum ini dapat juga diartikan, suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Sebaliknya, suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Dalam hal ini, tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Namun perlu diingat, sering terjadi, bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.
Selain hukum-hukum di atas, Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya trasfer of training. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru, karena di dalam setiap masalah, ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya, setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Misalnya, kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yang telah dimiliki siswa, haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan.
Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran
Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan, tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan, respons yang akan diharapkan dan tahu kapan “hadiah” selayaknya diberikan kepada peserta didik.
Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:
Perhatikan situasi peserta didik
Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut
Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja, jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya
Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.
Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik
Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubungan-hubungan lain yang sejenis
Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbagai situasi yang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (dalam Asnaldi, 2008) teori Thondike ini disebut teori asosiasi.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
• Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
• Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
• Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
Hukum ini dapat juga diartikan, suatu tindakan yang diikuti akibat yang menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan diulangi pada waktu yang lain. Sebaliknya, suatu tindakan yang diikuti akibat yang tidak menyenangkan, maka tindakan tersebut cenderung akan tidak diulangi pada waktu yang lain. Dalam hal ini, tampak bahwa hukum akibat tersebut ada hubungannya dengan pengaruh ganjaran dan hukuman. Ganjaran yang diberikan guru kepada pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadap siswa yang dapat menyelesaikan soal matematika dengan baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Sedangkan hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadap hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakan siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya. Namun perlu diingat, sering terjadi, bahwa hukuman yang diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjadi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.
Selain hukum-hukum di atas, Thorndike juga mengemukakan konsep transfer belajar yang disebutnya trasfer of training. Konsep ini maksudnya adalah penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki siswa untuk menyelesaikan suatu masalah baru, karena di dalam setiap masalah, ada unsur-unsur dalam masalah itu yang identik dengan unsur-unsur pengetahuan yang telah dimiliki. Unsur-unsur yang identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan. Unsur-unsur yang saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya, setiap kemampuan harus dilatih secara efektif dan dikaitkan dengan kemampuan lain. Misalnya, kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yang telah dimiliki siswa, haruslah dilatih terus dengan mengerjakan soal-soal yang berikaitan dengan operasi aritmetik. Dengan demikian kemampuan mengerjakan operasi aritmetika tersebut menjadi mantap dalam pikiran siswa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa transfer belajar dapat tercapai dengan sering melakukan latihan.
Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran
Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan, tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan, respons yang akan diharapkan dan tahu kapan “hadiah” selayaknya diberikan kepada peserta didik.
Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:
Perhatikan situasi peserta didik
Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut
Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja, jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya
Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.
Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik
Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubungan-hubungan lain yang sejenis
Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Langganan:
Postingan (Atom)